Bawang Putih dan Bawang Merah
Bawang putih adalah gadis yang sudah tak punya ibu dan bapak. Ia hidup bersama ibu tiri nya yang juga punya anak seusia bawang putih. Ia selalu dibebani pekerjaan yang berat, misalnya mengambil air dari sumber yang jaraknya jauh dari rumah. Sementara saudara tiri nya yaitu Bawang Merah tak pernah disuruh bekerja membantu ibunya. Bawang Putih juga diperintah mencari ranting-ranting kayu bakar untuk memasak. Namun gadis ini tak pernah mengeluh.
Ia jalani hidup ini dengan tabah, walau kadang ia juga merasa diperlakukan kurang adil oleh ibu tirinya. Seperti memberi makan ayam harus dia yang melakukan, padahal itu pekerjaan mudah dan Bawang Merah pasti bisa melakukannya. Ia juga yang harus menyapu dan menimbun sampah dibelakang rumah. Karena sering bergerak tanpa disadari tubuh Bawang Putih semakin sintal padat dan sehat. Kecantikanya tidaklah berkurang karena kesibukanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Sementara Bawang Merah sengaja dimanja sedemikian rupa. Tak pernah disuruh membantu pekerjaan rumah. Setiap hari kegiatanya hanya berdandan dan bersolek.
Malang nian nasib si Bawang Putih. Sehari-hari sudah bekerja keras, apabila ada kesalahan sedikit saja ia selalu dimarahi oleh ibu tirinya. “ Ingat jangan ulangi lagi kesalahanmu, dasar gadis bodoh ! jelek !” bentak ibu tirinya suatu hari. Bawang Merah setiap hari hanya bersolek. Ia berusaha berdandan sebaik baiknya. Namun diam-diam ia harus mengakui bahwa Bawang Putih ternyata jauh lebih cantik daripada dirinya. Padahal Bawang Putih tak pernah bersolek secara berlebihan seperti Bawang Merah.
Seperti biasa setiap hari Bawang Putih diperintah mencuci pakaian kotor yang jumlahnya cukup banyak. Karena kebaikan dan ketulusan hatinya. Ada seekor ikan emas ajaib yang membantunya. Begitu pakaian dicelupkan ke dalam air seketika itu juga pakaian itu menjadi bersih dengan sendirinya.
Melihat pekerjaan berat dapat diselesaikan dalam waktu singkat, si ibu tiri menjadi curiga. Suatu ketika Bawang Merah disuruh mengamati dari jarak jauh siapakah yang membantu pekerjaan Bawang Putih. “Oh, ternyata dia dibantu oleh ikan ajaib?” berkata dalam hati, Bawang Merah. “ Hem, aku ada akal...” Bawang Merah lalu menangkap ikan itu tanpa tanpa tahu Bawang Putih. Lalu ikan itu dibawa pulang, dimasak, dan mereka makan habis dagingnya. Hanya duri dan kepala yang disisakan oleh ibu dan anak yang dengki itu. Mereka memberikan sisa ikan itu agar dimakan Bawang Putih. Mana mungkin Bawang Putih tega memakan sahabatnya sendiri, sebab ikan itu telah banyak membantu pekerjaannya sehari-hari.
Dengan hati sangat sedih Bawang Putih menerima duri ikan itu. Air matanya bercucuran, Ia mengubur kepala dan duri ikan itu di halaman depan rumahnya. Tak berapa lama tumbuh tanaman bunga yang indah.
Pada suatu hari ada Pangeran Kerajaan yang melintas di tempat itu. Pangeran sangat tertarik atas keindahan bunga yang sedang mekar di halaman rumah Bawang Putih. Pangeran turun dari kudanya. Ibu tiri dan Bawang Merah buru-buru datang menyambutnya. “ Wahai Pangeran, apakah yang membawa Pangeran datang ke gubuk hamba yang reyot ini? ” “Saya ingin tahu siapa yang menanam pohon ini?” tanya sang Pangeran. Tiba-tiba Bawang Merah menjawab dengan lancang, “ Hamba lah yang menanam pohon ini Pangeran.” Tapi Pangeran menggelengkan kepalanya. Sebab ia sudah tahu siapa sesungguhnya yang menanam bunga itu. Sebenarnya Pangeran itu jelmaan ikan emas. karena dahulu ia dikutuk oleh Dewa karena berbuat kesalahan. “ Kalian bohong ! Kalian telah memakan ikan jelmaan diriku, tubuh kalian akan mengeluarkan sisik seperti ikan.” Baru saja Pangeran berkata demikian ibu dan anak yang jahat it menjerit karena tubuhnya jadi bersisik seperti ikan. Mereka lari masuk ke dalam hutan karena malu.
Pangeran menghampiri Bawang putih, “Bawang Putih akulah ikan yang telah membantu mencuci pakaianmu. Sekarang maukah kau ku pindah ke istana untuk kujadikan istriku...? “ Oh Pangeran... hamba... hamba bersedia.”
Demikianlah Bawang Putih yang baik hati akhirnya memperoleh kebahagiaan hidup bersama Pangeran tampan.
Malang nian nasib si Bawang Putih. Sehari-hari sudah bekerja keras, apabila ada kesalahan sedikit saja ia selalu dimarahi oleh ibu tirinya. “ Ingat jangan ulangi lagi kesalahanmu, dasar gadis bodoh ! jelek !” bentak ibu tirinya suatu hari. Bawang Merah setiap hari hanya bersolek. Ia berusaha berdandan sebaik baiknya. Namun diam-diam ia harus mengakui bahwa Bawang Putih ternyata jauh lebih cantik daripada dirinya. Padahal Bawang Putih tak pernah bersolek secara berlebihan seperti Bawang Merah.
Seperti biasa setiap hari Bawang Putih diperintah mencuci pakaian kotor yang jumlahnya cukup banyak. Karena kebaikan dan ketulusan hatinya. Ada seekor ikan emas ajaib yang membantunya. Begitu pakaian dicelupkan ke dalam air seketika itu juga pakaian itu menjadi bersih dengan sendirinya.
Melihat pekerjaan berat dapat diselesaikan dalam waktu singkat, si ibu tiri menjadi curiga. Suatu ketika Bawang Merah disuruh mengamati dari jarak jauh siapakah yang membantu pekerjaan Bawang Putih. “Oh, ternyata dia dibantu oleh ikan ajaib?” berkata dalam hati, Bawang Merah. “ Hem, aku ada akal...” Bawang Merah lalu menangkap ikan itu tanpa tanpa tahu Bawang Putih. Lalu ikan itu dibawa pulang, dimasak, dan mereka makan habis dagingnya. Hanya duri dan kepala yang disisakan oleh ibu dan anak yang dengki itu. Mereka memberikan sisa ikan itu agar dimakan Bawang Putih. Mana mungkin Bawang Putih tega memakan sahabatnya sendiri, sebab ikan itu telah banyak membantu pekerjaannya sehari-hari.
Dengan hati sangat sedih Bawang Putih menerima duri ikan itu. Air matanya bercucuran, Ia mengubur kepala dan duri ikan itu di halaman depan rumahnya. Tak berapa lama tumbuh tanaman bunga yang indah.
Pada suatu hari ada Pangeran Kerajaan yang melintas di tempat itu. Pangeran sangat tertarik atas keindahan bunga yang sedang mekar di halaman rumah Bawang Putih. Pangeran turun dari kudanya. Ibu tiri dan Bawang Merah buru-buru datang menyambutnya. “ Wahai Pangeran, apakah yang membawa Pangeran datang ke gubuk hamba yang reyot ini? ” “Saya ingin tahu siapa yang menanam pohon ini?” tanya sang Pangeran. Tiba-tiba Bawang Merah menjawab dengan lancang, “ Hamba lah yang menanam pohon ini Pangeran.” Tapi Pangeran menggelengkan kepalanya. Sebab ia sudah tahu siapa sesungguhnya yang menanam bunga itu. Sebenarnya Pangeran itu jelmaan ikan emas. karena dahulu ia dikutuk oleh Dewa karena berbuat kesalahan. “ Kalian bohong ! Kalian telah memakan ikan jelmaan diriku, tubuh kalian akan mengeluarkan sisik seperti ikan.” Baru saja Pangeran berkata demikian ibu dan anak yang jahat it menjerit karena tubuhnya jadi bersisik seperti ikan. Mereka lari masuk ke dalam hutan karena malu.
Pangeran menghampiri Bawang putih, “Bawang Putih akulah ikan yang telah membantu mencuci pakaianmu. Sekarang maukah kau ku pindah ke istana untuk kujadikan istriku...? “ Oh Pangeran... hamba... hamba bersedia.”
Demikianlah Bawang Putih yang baik hati akhirnya memperoleh kebahagiaan hidup bersama Pangeran tampan.
